SHARE
jarum suntik

Kecilnya ujung jarum, bisa saja berpotensi menimbulkan malapetaka yang tak kalah besar dari ujung pedang. Pernah dengar kisah seorang mahasiswa sebuah akademi keperawatan yang tanpa sengaja tertusuk jarum suntik bekas pasien HIV positif?

Ceritanya begini: mahasiswa tersebut baru saja melakukan praktik di sebuah klinik bersalin. Ia mengambil sampel darah seorang perempuan PSK (pekerja seks komersial) yang sedang hamil, dan punya riwayat HIV positif.

Ketika hendak menutup jarum suntik, tanpa sengaja jari telunjuknya malah tertusuk ujung jarum tersebut. Mahasiswa itu langsung shock seketika. Terbayang di wajahnya, virus HIV perlahan merayap di sekujur tubuhnya, memasuki semua jaringan organnya, dan ia menjadi satu diantara jutaan pengidap virus mematikan itu.

Meski akhirnya diketahui hasilnya negatif, namun si mahasiswa sempat dilanda kecemasan yang luar biasa dalam waktu yang cukup lama, tiga bulan. Rasa cemasnya semakin menjadi manakala ia diminta mengonsumsi obat antivirus selama sebulan pasca-pemeriksaan awal di sebuah VCT (Voluntary Counseling and Testing) atau klinik konsultasi dan pemeriksaan pasien HIV. Bulan ketiga, baru dapat dipastikan bahwa ia terbebas dari virus yang sangat ditakuti semua orang itu.

Mahasiswa akademi keperawatan itu sebenarnya termasuk beruntung. Karena faktanya, beberapa kasus penularan virus HIV bermula dari kecilnya ujung jarum dan tabung suntik (semprit). Termasuk, risiko penularan HIV akibat pemakaian jarum tattoo dan narkoba suntik bergantian.

Untuk kejadian seperti yang dialami mahasiswa tadi, sebenarnya ada beberapa hal yang perlu segera dilakukan saat itu juga. Pertama, pencet bagian di sekitar tempat tusukan atau goresan jarum, sehingga ada sedikit darah yang keluar. Kemudian, bersihkan luka dengan cairan antiseptik dan basuh dengan air yang mengalir. Tindakan-tindakan ini berguna untuk memperkecil risiko infeksi virus.

Langkah berikutnya yang sebaiknya dilakukan, yaitu menjalani uji medis di VCT atau klinik terdekat. Obat pencegahan atau profilaksis HIV juga perlu dikonsumsi untuk mencegah penularan virus.

Penularan virus HIV maupun virus-virus lainnya, sangat mungkin terjadi akibat jarum suntik dan semprit yang dipakai bergantian. Dalam dunia medis, memang sangat dianjurkan satu jarum suntik hanya dipakai untuk satu pasien.

Namun kenyataannya, di banyak daerah tidaklah mudah untuk memperoleh jarum suntik. Sehingga mau tidak mau, satu jarum semprit digunakan untuk lebih dari satu pasien. Kendati demikian, berlaku standar yang ketat mengenai tata cara sterilisasi jarum suntik sebelum dipakai untuk orang yang berbeda, demi menghindari penularan virus HIV maupun virus lainnya.

SHARE

LEAVE A REPLY