SHARE
antibiotik

Resistensi Antibiotik, Manusia Terancam Punah pada 2050?, kalimat tanya ini merupakan judul berita yang tayang di website liputan6.com pada tanggal 12 Mei lalu. Judul berita yang menggambarkan tidak terkontrolnya penggunaan antibiotik yang memperbesar kemungkinan resistensi obat-obatan terhadap suatu penyakit.

Widyastuti Wibisana dari WHO melaporkan dalam pertemuan Strategies for Containment of Antimicrobial Resistance WHO Indonesia di Yogyakarta bahwa pakar kesehatan dunia memprediksi pada 2050 tidak ada penyakit yang bisa disembuhkan dengan antibiotik. “Artinya, manusia pasrah menunggu kematiannya karena penyakitnya tidak bisa diobati”.

Penggunaan obat jenis antibiotik yang tidak bertanggung jawab ini menyebabkan obat menjadi tidak aman dikonsumsi karena pemberian dosis obat tidak sesuai dengan dosis terapi. Penggunaan antibiotik yang tidak wajar ini juga masuk dalam kategori medication error yang di beberapa literatur menyebutkan bahwa kejadian kesalahan pengobatan ini diantaranya disebabkan oleh kesalahan komunikasi, praktek distribusi obat yang tidak baik, kesalahan penghitungan dosis, kesalahan obat dan kemasan obat, penggunaan obat yang salah, kurangnya pengetahuan pasien tentang obat.

Pasien dalam kejadian medication error tentu saja tidak berdiri sendiri. Dalam pelayanan kesehatan yang diberikan oleh profesi medis dan profesi kesehatan memiliki kesepakatan teraupetik tidak hanya antara pasien dengan dokter, tetapi bisa juga antara dokter dengan keluarga pasien, dan terlebih jika yang menjadi pasien adalah anak-anak, dimana tenaga kesehatan dan orang tua yang menyatakan kesepakatan teraupetik itu.

Tidak sampai disitu, jika ada anjuran mengonsumsi obat, orang tua pasien yang akan menerima infomasi dari dokter atau apoteker seperti apa aturan dan dosis minum dari obat yang diterima. Di sini bisa dilihat bagaimana peran keluarga, dalam hal ini kedua orang tua secara utuh dalam penggunaan obat antibiotik yang bertanggung jawab.

Selain obat yang diperoleh dari resep yang diberikan oleh dokter atau dokter gigi, kebutuhan obat jenis antibiotik juga bisa didapatkan secara bebas di apotek baik itu apotek dengan sistem konvensional ataupun sistem online. Pembelian obat secara bebas ini dalam trennya diikuti dengan tidak utuhnya PIO (Pelayanan Informasi Obat) diberikan oleh pihak apotek. Dalam tahap lebih luas lagi tidak dilakukan MESO (Monitoring Efek Samping Obat) atau TDM (Theraupetic Drug Monitoring).

Antibiotik merupakan salah satu obat farmasi yang dipakai dalam dunia pengobatan untuk membunuh mikroorganisme. Obat antibiotik bisa didapatkan di pasaran dengan merk dagang seperti Ampicillin, Amoxicillin, Amoxillin, Cefadroxyl, dan masih banyak lagi. WHO dalam laporannya terkait isu global resistensi antibiotik mengatakan bahwa “…All antimicrobial agents have the potential to select drug-resistant subpopulations of microorganisms. With the widespread use of antimicrobials, the prevalence of resistance to each new drug has increased. The prevalence of resistance varies between geographical regions and over time, but sooner or later resistance emerges to every antimicrobial…”.

Hal ini yang kemudian menjadi keprihatinan global bagi masa depan kesehatan internasional dan keberlanjutan hidup spesies manusia, dimana WHO menjadikan situasi ini sebagai isu bersama yang harus ditanggulangi secara lintas sektor seperti keterlibatan sistem surveilans tingkat nasional setiap negara, organisasi kesehatan internasional, pelaku industri farmasi, pasien hingga masyarakat umum.

Berdasarkan laporan WHO juga disampaikan bahwa faktor pasien juga berkontribusi terhadap kejadian resistensi antibiotik yang terjadi akibat salah persepsi dari pasien, bermodalkan pengetahuan seadanya dalam mengobati diri, termakan rayuan iklan dan promosi, dan ketidaktaatan dalam mengonsumsi obat terhadap dosis yang diberikan.

Penghujung dari tulisan ini bermaksud meneruskan strategi yang disusun WHO dalam mencegah resistensi antibiotik lebih jauh mengancam kehidupan manusia. Dalam proses peresepan dan penyerahan obat, WHO merekomendasikan adanya proses edukasi terhadap semua kelompok dalam hal penggunaan obat antibiotik. “Educate all groups of prescribers and dispensers (including drug sellers) on the importance of appropriate antimicrobial use and containment of antimicrobial resistance”. “Educate all groups of prescribers on disease prevention (including immunization) and infection control issues”.

Dalam hal anak atau anggota keluarga lainnya yang menjalani proses pengobatan menggunakan obat antibiotik, peran orang tua secara lengkap yaitu ibu dan bapak sangat penting dalam menerima, memahami dan menyimpan informasi aturan mengkonsumsi antiobiotik kepada anak. Orang tua harus memastikan tenaga kesehatan telah memberikan obat dengan prinsip 5 benar­–benar obat, benar dosis, benar pasien, benar waktu dan benar cara pemberiannya.

SHARE

LEAVE A REPLY