SHARE
sunat

Banyak orang yang menganggap bahwa sunat adalah sekadar perintah agama atau simbol kedewasaan seorang lelaki, padahal, pada titik yang lebih luas, sunat ternyata menjadi ritual yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, terlebih sebagai salah satu sarana pencegahan HIV.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, pada Juni 2016 merilis hasil penelitian bahwa sunat (circumcision) mampu menekan angka penularan virus HIV sampai 60 persen. Sementara itu, dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Catie (Canada’s Source for HIV and Hepatitis C Information) terungkap bahwa sunat dapat secara signifikan mereduksi risiko penularan HIV/AIDS.

Dalam artikel tersebut dijelaskan, kulit kemaluan pria (foreskin), apabila tidak disunat, akan menjadi media yang sangat rentan bagi penyebaran virus mematikan itu. Selain temuan kedua organisasi kesehatan tadi, manfaat sunat bagi kesehatan penis pun sudah banyak direkomendasikan oleh sejumlah pakar kesehatan. Dr Lance B Price dan rekannya (2013) dari Universitas George Washington, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa sunat dapat mengurangi risiko terkena infeksi HIV, karena jumlah bakteri yang ada di kulup penis menurun secara signifikan.

Dengan bersunat, prevalensi bakteri anaerob atau organisme yang tidak dapat hidup tanpa oksigen menjadi berkurang.

Dari Indonesia, pakar urologi RSCM dr Irfan Wahyudi, SpU (2015) berpendapat, penis yang tidak disunat lebih rentan terkena virus HIV. Penurunan risiko penularan virus tersebut dapat ditekan hingga 50 persen setelah dilakukan sunat.

Hal ini menjadi bukti sahih, bahwa sunat kini bukan hanya menjadi kewajiban bagi penganut agama tertentu. Tindakan medis ini telah menjadi anjuran bagi kaum pria demi kesehatan dan kebersihan organ penisnya. Tidak mengherankan bila beberapa negara sudah mewajibkan warga berjenis kelamin pria untuk melakukan sirkumsisi karena alasan kesehatan.

Namun yang perlu diingat adalah, sunat hanyalah satu elemen dasar kesehatan pria. Setelah disunat, seorang pria hendaknya tetap mampu menjaga dirinya dari perilaku yang dapat memicu atau mendatangkan risiko penyakit menular seksual.

SHARE

LEAVE A REPLY