SHARE
irwan bajang

Saya (Fajar Nurmanto) bertemu Irwan Bajang dalam kondisi yang tergesa-gesa. Kondisi itu membuat percakapan kami begitu spontan dan luwes; tidak ada tendesi untuk menutup-nutupi perihal rumah tangga. Ada yang bilang kalau ingin melihat karakter asli seseorang, amati reaksi spontan dirinya. Berikut percakapan spontan tersebut.

Apa sih arti setara menurut Mas Bajang?

Setara itu dalam hubungan laki-laki dan perempuan atau rumah tangga ya. Jadi gini, aku dan istriku sudah masuk pernikahan di tahun ketiga. Kita bekerja dalam bidang yang sama. Kami mengurus penerbitan bernama Indie Book Corner. Posisi yang aku bangun dari dulu, semenjak jaman pacaran ya, pembagian tugas aja sih soal kesetaraan itu.

Maksud saya, kan ada orang yang membedakan laki-laki dan perempuan dalam scope yang jauh banget. Laki-laki mesti gini, perempuan mesti gitu. Kalau aku bagi peran aja semisal mengangkut buku satu kardus kan gak mungkin dilakukan perempuan. Tapi dalam beberapa hal seperti di rumah, semisal memasak. Kita sama-sama suka masak jadi tidak harus memasak dikerjakan oleh istri terus. Termasuk masalah bersih-bersih, kalau istri lagi malas sesekali ya aku yang ambil peran itu.

Kalau dalam hal frekuensi dalam melaksanakan kewajiban masing-masing?

Kita ngikuti umumnya orang sih. Contohnya memasak dan mencuci itu biasanya perempuan. Hanya saja kita gak pernah memaksa, “Itu tugasmu lho, bukan tugasku”. Bukan mentang-mentang aku sebagai suami, tugasku saklek mencari nafkah. Kita bekerja di tempat yang sama dan aku tahu keseharian istriku. Gak mungkin aku maksa dia untuk kamu harus pulang lebih dulu, lalu menyiapkan makanan dan merapikan tempat tidur.

Kalau aku yang lagi punya waktu luang, ya aku masak dan bersih-bersih tidak masalah. Dalam urusan kepemilikan kendaraan misalnya. Gak mesti harus pakai nama suami kok. Bahkan dulu sebelum ganti KTP Jogja, beli sesuatu pun pakai nama istri gak jadi soal.

Dalam masyarakat hari ini, istri yang memiliki penghasilan sendiri akan mempunyai daya tawar lebih meskipun berada di lingkup keluarga patriarki. Apakah itu juga terjadi di dalam rumah tangga Mas Bajang?

Gak sih. Kita berdua sama-sama pemilik di perusahaan yang kami kelola, jadi gaji kami sebenarnya sama. Memang aku lebih tinggi sedikit karena porsi kerjaku lebih banyak. Posisiku sekarang sebagai CEO sementara istriku adalah kepala editor. Otomatis gajiku lebih tinggi sejuta-dua juta. Selisih itu tidak jadi masalah karena keuangan kami sangat terbuka seperti jumlah nominal di ATM masing-masing. Itu pun hanya dipakai untuk kebutuhan personal seperti menjalin relasi, ngopi, beli rokok, dan semacamnya. Kita juga punya rekening bersama yang dipakai untuk menyimpan uang tabungan keluarga.

Kalau pengelolaan keuangan diserahkan pada istri?

Iya, tapi aku juga tahu soal pengeluaran karena istriku selalu melaporkan. Semisal beli baju atau beli kebutuhan rumah tangga. Sebenarnya juga tidak ada pembagian kamu harus beli dengan harga segini, aku segitu. Kesadaran aja kebutuhan bulanan yang harus dipenuhi lebih dulu apa. Nyaris gak ada konflik kalau terkait keuangan rumah tangga.

Nyaris kan bukan berarti tidak, jadi artinya pernah ada konflik. Konflik macam apa itu Mas Bajang?

Itu sih konflik karena pekerjaan yang secara operasional bergesekan. Semisal kita adalah pemilik dan bekerja di perusahaan yang sama. Konflik itu terjadi karena sifat bawaan kita bersinggungan seperti aku yang kurang tegas kepada karyawan, deadline molor, dan lain sebagainya. Dia bakal menegur, “Iki piye tho, nanti kita gak bisa nabung kalau kamu geraknya lamban”. Konflik yang terjadi itu justru berada di area pekerjaan, bukannya hubungan dalam rumah tangga.

Kita sudah menentukan ada ruang lingkup komunal yang harus jadi perhatian bersama misalnya rumah, tabungan, rencana masa depan, dan lain-lain. Tetapi kita juga punya ranah privasi masing-masing seperti istriku yang tidak pernah membuka-buka HP milikku, meskipun HP itu tergeletak begitu aja. Kita juga paham ada beberapa hal yang bisa menimbulkan salah paham kalau tidak dikonfirmasikan lebih dulu. Nah pelajaran ini kita terapkan semenjak jaman pacaran dulu.

Berarti yang dibangun dalam hubungan Mas Bajang adalah pemahaman tentang kepribadian pasangan?

Benar, sementara pemahaman itu dibangun dari perjalanan panjang. Mulai dari aku pacaran empat tahun ditambah dengan usia pernikahan yang menginjak tahun ketiga.

Kita menyadari bahwa terlalu jauh ikut-campur dalam pergaulan komunal masing-masing justru malah membuat tidak nyaman. Semisal istri ikut dalam obrolan laki-laki yang terlalu vulgar atau aku yang ikut dalam acara hang out istri yang lebih banyak selfie juga belanja.

Meskipun awalnya bertujuan agar bisa mengetahui aktivitas pasangan, tapi malah membuat kita tidak nyaman. Cukupkan saja pada level tahu apa yang pasangan kita lakukan, setelah itu kita berikan mereka kepercayaan. Pemahaman itu kita dapatkan dari proses panjang membina hubungan.

Termasuk dalam urusan seksualitas?

Tentu saja. Kalau aku ingin berhubungan sementara istriku enggak, aku gak boleh memaksa. Bisa jadi karena dia kelelahan akibat rutinitas kerja maka aku harus mengerti keadaan itu. Demikian juga sebaliknya. Semua harus berjalan natural termasuk soal kehadiran anak. Kita tidak menunda atau mempercepat. Pernah kita cek ke dokter untuk memeriksa apakah ada masalah dan ternyata tidak. Ya sudah, kita bawa santai aja sambil jalan.

Apa rahasia kesuksesan Mas Bajang membangun pemahaman bersama istri?

Menempatkan sesuatu pada tempatnya aja. Meskipun aku diperbolehkan seminggu nongkrong di luar, aku harus paham, masak istriku aku tinggalkan sendirian di rumah. Meskipun urusan nongkrong itu penting semisal membicarakan bisnis, aku tetap harus meluangkan waktu bersama istri di rumah.

Entah itu menonton, membersihkan rumah, atau memasak. Itu kita lakukan dengan inisiatif sendiri, sehingga kita bisa menyadari karakter masing-masing. Kalau ada sifat jelek, kita perbaiki pelan-pelan sambil memaklumi kesalahan yang terjadi.”

Kalau pemahaman bersama antar-keluarga?

Aku dan istri sama-sama anak pertama. Hubungan pernikahan kami pun jadi pengalaman pertama orang tua kami masing-masing untuk menikahkan anaknya. Mereka berpikiran terbuka dengan saling menghargai adat masing-masing. Istriku orang Jawa dan aku orang Lombok.

Misalnya dalam adat Jawa pernikahan dilangsungkan beberapa bulan lamanya setelah lamaran. Sementara di adat Lombok tempat aku berasal, lamaran sekarang maka pernikahannya bisa langsung terjadi di minggu depan. Pihak keluarga membicarakan keinginan masing-masing untuk dirembug bersama. Tidak pernah ada konflik kebudayaan karena kita selalu membicarakan uneg-uneg kita untuk didiskusikan bersama.

Apa sih yang paling menghabiskan enegi dalam membina hubungan selama ini?

Aku bisa selama 24 jam penuh bareng bersama istri selama seminggu untuk urusan pekerjaan dan rumah. Itu posisi yang rawan kebosanan dan gesekan. Baik dalam hal besar maupun kecil sekalipun. Macam mengganti lampu yang sudah mati bisa berujung pada percekcokan.

Aku dan istriku sepakat untuk menyelesaikan masalah saat itu juga. Bila sudah terlalu panas, biasanya kita akan mengambil jarak untuk menjauh sebentar. Jarak itu akan membuat masing-masing berpikir, “Kenapa sih aku tadi harus marah-marah? Apa masalahnya?”. Saat kita tidak berdekatan malah justru terjadi introspeksi dalam diri masing-masing.”

Seperti apa yang Indrian Koto katakan dalam puisinya, “Jarak menciptakan rindu”.

LEAVE A REPLY