SHARE

Prinsip pertama dan utama ketika mesti membuat komitmen dengan pasangan, baik berpacaran maupun menikah adalah mendefinisikan hakikat kebersamaan. Seseorang berkomitmen dalam hubungan untuk mencari cinta dan kasih sayang. Cinta, secara etimologis dan hakikat adalah istilah kontradiksi dari hal-hal yang bersifat kebencian, kekerasan, dan menyakiti, baik secara psikologis maupun fisik. Segala sesuatu disebut cinta ketika ia tidak pernah berniat untuk mengganggu hak-hak dasar kemanusiaan.

Sayangnya, prinsip tersebut seringkali disalahpahami oleh banyak pasangan. Kekerasan, baik verbal dan apalagi fisik, tidak dapat dibenarkan dengan dalih apapun. Pasangan yang cemburu sehingga terbakar amarah lalu memukul, pasangan yang membentak hingga menimbulkan trauma, atau pasangan yang memberi ancaman dengan dalih demi kebaikan dan kelanggengan hubungan pacaran, adalah tradisi keliru yang tidak selayaknya dipertahankan. Setiap manusia berhak atas kebaikan tubuh dan kejiwaannya sendiri, baik ketika sendiri maupun berkomitmen dalam sebuah hubungan.

Pacaran bukan berarti kamu merasa berhak untuk menyakiti tubuh pasanganmu dengan alasan memberi pelajaran. Toh, jika kamu menganggap memiliki hak kepemilikan atasnya, harusnya kamu tahu bahwa jika tubuhmu sendiri sakit ketika mendapat kekerasan, begitupun hal yang ia rasakan jika tubuhnya tersakiti. Bukan begitu?

Nah, jika kamu terlanjur memiliki teman yang mengalami trauma psikis atau sakit fisik akibat Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), berikut adalah hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk membantunya.

Tegaskan kepadanya bahwa ia berhak memiliki keputusan

Idealnya, pacaran memang dijalani oleh orang dewasa. Alasannya tentu saja karena orang dewasa dianggap telah menemukan jati diri dan dapat memutuskan suatu hal dengan risiko dan tanggung jawab. Maka, jika ada temanmu menjadi korban KDP yang disebabkan oleh pemaksaan kehendak, katakan padanya bahwa pasangan yang baik mengerti perbedaan diskusi yang sehat dan keegoisan dalam berdebat. Tegaskan padanya bahwa ia berhak memiliki keputusan tanpa harus mendapat kekerasan psikologis maupun fisik.

Tegaskan kepadanya bahwa ia tidak bersalah

Seseorang yang mengalami trauma kerapkali menyangka bahwa ia memang bersalah dan oleh karena itu ia layak menjadi objek umpatan, makian hingga kekerasan fisik. Hal itu tidak benar sama sekali. Korban kekerasan tetaplah korban. Sekalipun ia bersalah, jalan keluar yang tepat bukan berarti lewat kekerasan.

Jelaskan bahwa hak atas tubuh adalah hak pribadi

Hak hidup adalah hak paling asasi yang dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu, menjaga tubuh sebagai pusat nyawa bisa juga disebut sebagai hak paling asasi. Tubuh yang merasakan sakit hanya dapat dirasakan diri sendiri, oleh karena itu, orang lain tidak punya hak sedikitpun untuk menyakitinya.

Salurkan pada temanmu rasa percaya diri dan keberanian

Seseorang yang mengalami trauma mendapati rasa percaya diri dan keberanian yang terkikis. Ia tidak melihat dirinya sebagai entitas yang berharga dan memiliki harapan. Oleh karena itu, jika ada temanmu yang mengalami KDP, kamu harus memberinya keyakinan bahwa kamu akan terus bersamanya sehingga rasa percaya diri dan keberaniannya bangkit.

Jika perlu, yakinkan padanya bahwa kekerasan adalah sesuatu yang bisa dilawan secara hukum

Kita perlu mengucapkan terima kasih pada segenap aktivis yang telah mengadvokasi isu-isu kekerasan, termasuk di dalamnya Kekerasan Dalam Pacaran. Korban Kekerasan Dalam Pacaran kini dapat menuntut haknya serta memperoleh pendampingan dari LSM serta gerakan kultural-sosial lain yang peduli pada isu ini.

Perlindungan secara hukum atas kekerasan mutlak menjadi hal yang wajib. Karenanya, kekerasan, sungguhpun dalam skala sebuah hubungan pacaran tetaplah layak (dan memang seharusnya) untuk dihadapi secara hukum.

SHARE
Penerjemah partikelir, penulis lepas, kini aktif mengurus dunia literasi di Pocer.co

LEAVE A REPLY