SHARE
hiv test

Sampai saat ini, belum ada satu pun obat yang bisa menjamin untuk menyembuhkan HIV sampai benar-benar sembuh, namun begitu, perkebangan virus HIV di tubuh bisa dihambat persebarannya dengan aneka obat penguat imun sampai penanganan medis tertentu seperti terapi antiretroviral, asalkan itu dilakukan sedini mungkin.

Nah, di sinilah pentingnya pemeriksaan HIV. Seseorang yang merasa pernah melakukan aktivitas yang beresiko untuk dapat tertular HIV sebaiknya memang melakukan pemeriksaan HIV.

Hal ini tentu agar sedini mungkin, kemungkinan penyebaran efek HIV bisa dihambat. Tentu sangat disayangkan jika seseorang justru memeriksakan diri ketika kondisi tubuhnya sudah sangat memburuk, atau bahkan sudah berada pada kondisi AIDS (kondisi di mana virus HIV menyebabkan kerusakan serius pada sistem imun).

Sayangnya, banyak orang yang beresiko terkena HIV tidak pernah berani untuk memeriksakan diri. Salah satu sebab utamanya adalah ribet dan takut mendapat stigma dan diskriminasi dari masyarakat.

Hal ini tentu sangat disayangkan, sebab, pada kenyataanya, proses dan prosedur pemeriksaan HIV tidaklah seribet yang dibayangkan, selain itu, hasil pemeriksaannya pun rahasia, sebab si pasien dengan dokter akan menandatangani semacam surat perjanjian bahwa hasil pemeriksaan hanya boleh diketahui oleh dokter dan si pasien.

Pemerintah dengan kerjasama berbagai pihak, diantaranya dengan Komisi Perlindungan AIDS sebenarnya sudah mengadakan berbagai penyuluhan tentang mudahnya pemeriksaan HIV ini, hanya saja, masih banyak masyarakat yang tetap takut dan belum “ngeh” dengan kemudahan ini.

Salah satu bukti kemudahan pemeriksaan HIV adalah ia bisa dilakukan di Puskesmas, tidak harus di rumah sakit besar.

Selain kemudahan tempat pemeriksaan, proses pemeriksaannya pun tak kalah mudah. Mula-mula, pasien mendaftar di Puskesmas dengan membawa kartu identitas, setelah, itu, ia akan diberi pra test berupa bimbingan konseling dasar yang diantaranya adalah konseling soal pemahaman tentang HIV, faktor risiko, dan penelusuran potensi risiko pasien. Pada tahap ini, pasien diharapkan seterbuka mungkin kepada petugas mengenai riwayat perilaku yang berpotensi menjadi faktor risiko infeksi HIV.

Proses berikutnya adalah tes darah di laboratorium puskesmas. Pasien akan diambil sampel darahnya untuk diteliti apakah ada virus HIV atau tidak.

Dalam waktu dua jam, hasil tes ini sudah keluar. Nantinya, hasil tes ini akan diambil oleh petugas khusus yang kemudian akan diserahkan kepada dokter yang berwenang.

Hasil uji darah ini hanya bisa dibuka olah pasien bersama dokter yang berwenang secara tertutup untuk menjaga kerahasiaan si pasien.

Untuk bisa melakukan pemeriksaan HIV ini, pasien sama sekali tidak dikenakan biaya alias gratis. Kalaupun ada biaya, biasanya hanya biaya pendaftaran atau administrasi Puskesmas yang nilainya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah.

Nah, bagaimana? Mudah dan sama sekali tidak ribet bukan? Ayo, jangan pernah takut untuk memeriksakan diri. Ingat, HIV bisa dicegah salah satunya adalah dengan pemeriksaan sedini mungkin.

Jangan biarkan penyesalan menjadi teman yang menyakitkan sebab tidak pernah mau dan berani memeriksakan diri.

SHARE

LEAVE A REPLY