SHARE
sexual abuse

Berita mengenai kekerasan seksual rasa-rasanya tidak pernah ada habisnya. Hampir setiap hari kita mendengar atau membaca berita mengenai pemerkosaan, pelecehan seksual, dan lain sebagainya.

Korban tidak lagi hanya mereka yang sudah dewasa atau remaja, tapi juga anak-anak. Anak di bawah umur bisa menjadi salah satu sasaran utama dalam kejahatan seksual, itu tergambar jelas dalam kasus Loly Candy’s.

Bagaimana anak-anak yang berada di rumah atau hanya pergi tidak jauh dari rumah pun ternyata bisa diintai oeh bahaya kejahatan seksual.

Pada kasus Loly Candy’s, Walaupun kemudian aparat keamanan bergerak cepat untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab, tapi sejauh ini upaya untuk menanggulangi kekerasan seksual baru sebatas menghukum para pelakunya. Belum sampai pada upaya masif untuk mencegah tindak kejahatan seksual.

Hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian tersendiri bagi banyak kalangan. Karena, pada kasus kejahatan seksual, efek pada korban adalah efek mental dan sosial yang berkepanjangan.

Di Indonesia, suka atau tidak memang perlu kita akui jika korban kerap menerima penghakiman yang lebih berat dari masyarakat apabila jadi korban pelecehan seksual.

Mulai dari penghakiman korban tidak berpakaian sopan, yang salah ya perempuannya karena tidak menutup aurat, dan lain sebagainya.

karenanya kemudian para korban pelecehan seksual ini lebih suka menutup diri. Begitu pula keluarga. Mereka lebih khawatir jika masyarakat semakin menyudutkan mereka.

Jika korban dewasa saja punya efek yang sedemikian berat, apalagi jika korbannya adalah anak-anak. Tentunya akan semakin sulit bagi para korban yang masih di bawah umur untuk mengungkapkan fakta karena umumnya perkataan anak-anak tidak terlalu dipercaya oleh kebanyakan masyarakat di negeri ini.

Persoalan pelecehan seksual anak adalah masalah yang luas, banyak negara-negara lain selain Indonesia yang juga pernah mengalaminya, tak terkecuali Amerika Serikat, salah satunya skandal pelecehan seksual (pedofilia) oleh para pastor di Boston. Siapa yang akan Anda lebih percaya, anak-anak yang berkata tentang kejahatan seksual yang menimpa dirinya atau pembelaan dari orang yang selama ini dikenal sebagai alim agama?

Kasus yang kemudian dibuat film berjudul Spotlight itu membuktikan betul bagaimana konstruksi pikiran masyarakat yang lebih menyudutkan korban memang benar adanya, dan itu fakta yang membuat sulit penyelesaian masalah kekerasan seksual.

Padahal jika korban dan keluarga tidak mencoba membuka diri tentang kejahatan yang menimpa mereka, polisi tentu kesulitan untuk bergerak. Oleh karenanya, marilah kita berperan aktif untuk jadi bagian dari upaya menanggulangi merebaknya kekerasan/pelecehan seksual.

Pengalaman dari Fun Fun Centilicious (FFC), grup Facebook yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga, bisa jadi teladan yang bagus. Mereka berperan aktif untuk menelusuri penyebaran pornografi anak di grup Facebook Loly Candy’s 18+.

Dari penelusuran mereka, diketahui bahwa para anggota Loly Candy’s 18+ tidak sekadar berbagi konten dalam bentuk foto atau video tetapi juga tips dan trik untuk mendekati anak di bawah umur yang bisa jadi korban berikutnya.

Penelusuran dari FFC jadi masukan penting bagi pihak kepolisian untuk melakukan penyidikan lebih lanjut yang akhirnya bisa membongkar jaringan pedofil Indonesia yang berjejaring dengan komunitas di negara lain.

Dengan peran aktif semacam ini, meminimalkan pelecehan seksual bukanlah hal yang mustahil dilakukan.

SHARE
Suka menulis bola, CEO Football Fandom Indonesia, Direktur Mojok Store. Kepingin punya perut sixpack

LEAVE A REPLY