SHARE
kekerasan seksual anak anak

Belakangan ini kabar perihal ancaman penculikan dan kekerasan seksual pada anak-anak marak diperbincangkan. Salah satu sebab maraknya perbincangan ini adalah karena isu yang cukup sensitif ini menyebar dengan sangat masif melalui pesan berantai lewat sosial media. Walau belakangan diketahui bahwa isu penculikan yang sempat viral itu sudah dinyatakan sebagai hoax oleh pihak yang berwajib, namun tetap saja perkara kekerasan terhadap anak harus menjadi prioritas yang utama.

Hal ini tentu sangat beralasan, mengingat semakin berkembangnya jaman, semakin beragam pula pola kekerasan terhadap anak, tak terkecuali kekerasan seksual.

Salah satu contoh yang baru-baru ini menjadi tajuk utama di beberapa media tentu saja adalah kasus “pedofilia online” yang belakangan diketahui melibatkan cukup banyak pelaku yang bergerak secara berjejaring. Beruntung polisi bergerak cepat setelah mendapatkan bantuan dari komunitas orang tua yang aktif menyuplai data untuk aparat keamanan. Pelaku pedofilia kini sudah diringkus dan penyidikan terus dilakukan.

Para pedofil ini sebelumnya bisa bergerak dengan rapi. Mereka membangun jejaring komunitas di Facebook.

Di grup Facebook Loly Candys 18+ itulah para pedofil berbagi kiat untuk memperdaya anak-anak, berbagi foto tidak senonoh, hingga cerita tentang kegiatan seksual yang mereka lakukan. Mereka bisa memperdaya anak-anak juga para orang dewasa dengan berkedok sebagai orang yang sayang pada anak-anak.

Umumnya mereka ini menyasar anak-anak di lingkungan rumah para pelaku, lalu mendekati anak sekolah. Semua dilakukan dengan iming-iming mainan, makanan, dan lain sebagainya.

Anak-anak mudah terperdaya karena mereka merasa para pedofil itu adalah orang-orang yang sayang pada mereka. Para orang tua tidak menaruh curiga berlebihan pada tetangga atau orang yang memang dari luarnya tampak baik.

Selain dengan pendekatan langsung, yang biasa dilakukan oleh para pelaku adalah dengan media sosial. Meskipun tujuan dari media sosial baik untuk menjalin hubungan dengan teman, kerabat, atau rekan kerja, namun tak sedikit yang menyalahgunakannya untuk kepentingan yang tidak benar.

Apalagi sekarang kita dengan mudahnya mengunggah foto. Ini jelas perilaku yang disukai oleh para predator seksual. Oleh karena itu kita meski bijak untuk menggunakan media sosial, terlebih jika itu berhubungan dengan privasi anak-anak kita.

Nah, terkait hal tersebut, ada beberapa tips yang mungkin perlu diperhatikan. Di antaranya sebagai berikut:

Jangan mengunggah foto ketika berpakaian terbuka

Sejak lama kampanye jangan bugil depan kamera sudah dilakukan. Tapi, hingga kini masih saja banyak pengguna media sosial yang mengunggah foto telanjang atau berpakaian terbuka.

Di Instagram kita bisa menemukan banyak anak perempuan muda mengunggah foto yang berpakaian terbuka untuk mendapatkan likes. Tidak sedikit foto di dunia maya dengan pakaian seksi, bikini, atau lainnya.

Foto yang seperti itu kemudian jadi incaran para predator. Mulai sekadar dijadikan bahan untuk berfantasi seksual hingga jadi sasaran untuk didekati secara nyata. Tak heran jika kemudian marak terjadi kasus anak hilang yang pergi dengan orang yang dikenalnya melalui media sosial.

Nah, di sinilah peran orang tua diperlukan untuk mengingatkan anak agar jangan terlalu bebas menggunakan sosial media, apalagi sampai mengupload foto dengan pakaian terbuka.

Matikan GPS

Kini, ketika kita hendak mengunggah sesuatu di media sosial, baik Facebook, Twitter, Instagram, atau lainnya akan melacak posisi Anda di mana dengan GPS. Tujuannya baik, agar teman-teman dan saudara kita tahu kita sedang berada di mana.

Tapi, ini juga dimanfaatkan oleh para penjahat untuk melacak keberadaan kita. Emma Watson, artis yang tersohor itu pun memilih untuk tidak melayani permintaan selfie penggemarnya karena ketika para fans mengunggah foto ke dunia maya, para penjahat bisa tahu keberadaan Emma dan itu mengancam nyawanya.

Jadi, sebaiknya, ketika hendak mengunggah foto, terutama saat berfoto bersama anak kita, sebaiknya kita pastikan dulu bahwa GPS sudah mati dan tidak secara otomatis ikut terunggah. Dengan demikian kita sudah meminimalisir data yang kiranya bisa dimanfaatkan untuk tujuan buruk.

Memilih privacy unggahan kita

Satu lagi yang bisa kita lakukan adalah dengan memilih dengan siapa kita akan berbagai. Di Facebook misalnya, kita bisa memilih dengan siapa kita berbagai, hanya dengan teman, dengan follower, sekadar jadi koleksi pribadi, atau kita bagikan kepada publik yang bisa mengakses secara luas.

Maka, mulailah untuk mengecek privacy setting akun media sosial, lalu atur sesuai dengan keamanan yang kita butuhkan. Ada baiknya pula untuk menggembok akun kita jika kita tidak yakin bahwa apa yang kita unggah tidak akan mendatangkan bahaya bagi diri kita dan keluarga.

Tiga tips ini jika dilakukan setidaknya bisa membuat kita dan keluarga lebih aman dalam bermedia sosial. Jadi, mari senantiasa bijak dalam bermedia sosial.

SHARE
Suka menulis bola, CEO Football Fandom Indonesia, Direktur Mojok Store. Kepingin punya perut sixpack

LEAVE A REPLY