SHARE
hiv/aids

“Sebut kami ODHA. Orang dengan HIV/AIDS, bukan penderita HIV/AIDS sebab kami tidak menderita.” Begitulah barangkali jeritan batin para ODHA.

Telah jamak kita dengar kisah tentang dokter, keluarga, kerabat atau teman yang tidak menyemangati seseorang yang tengah sakit, tetapi justru malah menakut-nakuti yang berujung menyumbangkan kepesimisan.

“Maaf, pasien hanya punya waktu sekitar beberapa bulan lagi…” Itulah sikap keliru seorang dokter dalam menjalankan tugasnya. Penyakit apapun, tugas dokter semestinya adalah memperjuangkan pasien lewat tindakan medis apa saja untuk kebaikannya.

Edward P. Sarafino, dalam bukunya yang berjudul Health Psychology: Biopsychosocial Interaction, menyatakan bahwa suatu penyakit dan akibat yang diderita, baik akibat penyakit ataupun intervensi medis tertentu dapat menimbulkan perasaan negatif seperti kecemasan, depresi, marah, ataupun rasa tidak berdaya dan perasaan-perasaan negatif tertentu yang dialami terus-menerus ternyata dapat memperbesar kecenderungan seseorang terhadap suatu penyakit tertentu.

Hal ini terutama jelas sangat berlaku untuk para pengidap HIV/AIDS

ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di tengah lingkungan masyarakat sudah seharusnya mendapatkan perhatian khusus dalam hal stigma yang “terpaksa” disandangnya itu. Pasalnya, suatu studi telah menyimpulkan bahwa pasien yang menderita suatu penyakit dengan kondisi akut sebagian besar akan menunjukkan adanya gangguan psikologis, termasuk di antaranya adalah depresi.

Bagi ODHA, tekanan sosial yang terlanjur keliru dipahami oleh masyarakat tentu menjadi beban tersendiri. Selama ini stigma negatif yang terbangun di masyarakat adalah bahwa HIV/AIDS tidak diterima sebagai penyakit yang diakibatkan oleh virus, namun lebih karena perilaku yang dianggap buruk atau sampah masyarakat. Stigma buruk itu akhirnya berpengaruh kepada ODHA dengan menganggap dirinya tidak berharga lagi. Para ODHA merasa malu, bahkan untuk sekadar mengambil obat pun seringkali dilakukan sembunyi-sembunyi. Ini tentu justru punya efek yang buruk, karena pada titik tertentu, ia bisa menjadikan ODHA patah semangat dan tidak lagi memiliki keinginan untuk sembuh.

Nah, di ruang inilah diperlukan banyak dorongan dan penyebaran-penyebaran stigma positif terhadap ODHA.

Ada banyak ODHA yang telah bangkit dan menginisiasi gerakan sosial untuk menularkan stigma positif terhadap ODHA. Cak Gareng, misalnya.

“Langkah Kaki Jelajah Negeri, Cegah Penularan HIV dan Dukung Orang Yang Terinfeksi” ialah kalimat dalam spanduk yang menjadi pilihan keberaniannya untuk kembali berperilaku dan mengampanyekan hidup sehat ke penjuru Nusantara. Dengan berjalan kaki dan membuka komunikasi pada semua lapisan masyarakat, Cak Gareng pun ingin memberi motivasi pada teman-teman komunitasnya. Bahwa orang dengan HIV AIDS (ODHA) bukanlah akhir dari hidup. Pria kelahiran Nganjuk ini ingin membongkar stigma negatif masyarakat bahwa ODHA lemah, penyakitan, sampah masyarakat dan tak bermanfaat itu adalah anggapan yang salah.

Lain sosok, ada pula Yurike Ferdinandus, yang akrab disapa Yoke. Perempuan asal Bali ini hidup dengan virus HIV di dalam tubuhnya sejak tahun 2008. Yoke tertular virus HIV dari suaminya yang mana adalah seorang perwira TNI-AD. Yoke mengaku saat itu dia sama sekali tidak mengetahui mengenai perihal suaminya yang terinfeksi HIV.

Yoke bercerita bahwa dia merasa dunia seakan runtuh, dia merasa Tuhan tidak berpihak padanya serta anak anaknya. Ia sempat punya pikiran untuk mati, karena sangat putus asa akan hal yang baru diterimanya tersebut. Apalagi saat mengetahui salah seorang putra bungsunya, juga tertular HIV dari dirinya.

Yoke bersama teman-teman ODHA perempuan di Bali, kemudian terhubung dengan Sourcing Indonesia yang kemudian mengenalkannya pada seorang perempuan bernama Mary Fisher. Ternyata, Mary Fisher pun adalah seorang perempuan yang hidup dengan virus HIV di tubuhnya. Perempuan ini memiliki usaha pembuatan gelang yang bernama “100 biji kebaikan”. Ia sudah menjalankan program ini di 5 negara yakni Afrika, Uganda, Rwanda, Haiti dan juga Indonesia.

Mary Fisher yang juga seorang pengacara serta penulis buku ini datang ke Indonesia untuk membantu para perempuan HIV positif dengan cara memberikan peluang usaha, yakni membuat gelang. Dalam pertemuan serta kerjasamanya, Yoke menyampaikan bahwa Mary mengajarkan mengenai arti berbagi kebaikan dengan sesama dan selalu menjunjung tinggi kejujuran.

Contoh semangat ODHA seperti Cak Gareng dan Yoke tentu menjadi contoh peran penting dalam gerakan sosial melawan stigma negatif menuju stigma positif bagi ODHA. ODHA yang dapat berkarya dan diterima secara wajar adalah langkah maju dan capaian yang luar biasa bagi kesetaraan hak sesama manusia.

SHARE
Penerjemah partikelir, penulis lepas, kini aktif mengurus dunia literasi di Pocer.co

LEAVE A REPLY