SHARE
woman abuse

Kekerasan terhadap perempuan bukanlah perkara yang begitu saja dilupakan, ia adalah perkara serius yang membutuhkan perhatian banyak pihak.

Menurut data UN Women, di Indonesia, terjadi 35 kekerasan terhadap perempuan setiap harinya, Data serupa juga mengungkapkan bahwa 1 dari 3 perempuan di dunia pernah atau sedang mengalami kekerasan.

Menurut Lembar Fakta Catatan Tahunan Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) pada 2016, kekerasan terhadap perempuan semakin meluas dan meningkat.

Bahkan, di tahun 2015 saja, Komnas perempuan mencatat ada lebih dari 16 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan.

kekerasan terhadap perempuan

Utamanya terhadap perempuan, kekerasan tak selalu dalam bentuk fisik, pada titik tertentu, kekerasan juga bisa hadir dalam wujud kekerasan emosional, psikologis, dan seksual.

Butuh banyak peran dari yang kompleks dari berbagai pihak untuk bisa mengatasi kekerasan terhadap perempuan ini. Peran yang vital tentu saja adalah peran laki-laki yang selama ini memang dominan sebagai pelaku kekerasan.

Selama ini, fokus penanganan kekerasan terhadap perempuan selalu pada konteks perempuan sebagai korban, hal ini tentu harus mulai dirubah. fokus penanganan harus mulai beralih kepada pola hubungan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.

Perempuan yang selalu dicitrakan sebagai makhluk lemah lembut dan laki-laki dicitrakan dengan karakteristik kuat dan perkasa. Pencitraan inilah yang sejatinya menjadi salah satu sebab kelanggengan terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Pencitraan semacam tadi membuat kesetaraan gender dalam pola hubungan menjadi minim. Sebab hal tersebut memang memicu laki-laki untuk menempatkan perempuan di bawah derajat dirinya. Bahkan pada level hubungan suami-istri, laki-laki bisa saja memperlakukan istri seperti pesuruh, membuat keputusan penting sendiri, menempatkan diri sebagai โ€œraja dari istanaโ€ hanya karena ia merasa sebagai sosok yang memberikan nafkah sehingga memiliki kuasa yang lebih besar.

Pada level hubungan yang lebih rendah, bahkan lebih memprihatinkan lagi. Banyak tindak kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki hanya karena sebab kecemburuan.

Nah, di sinilah peran aktif laki-laki dibutuhkan. Laki-laki dituntut untuk lebih memahami bagaimana pola hubungan dan konsep-konsep kesetaraan gender yang ideal. Sebab bagaimanapun, laki-laki mampu membuat keputusan untuk tidak melakukan kekerasan terhadap pasangannya, atau mengintervensi laki-laki lain yang melakukan kekerasan berbasis gender.

Kesadaran cara pandang laki-laki dalam memposisikan dirinya dalam sebuah hubungan terhadap perempuan tentu akan sangat membantu untuk mengurangi kekerasan terhadap perempuan.

Bahwa laki-laki cenderung lebih kuat dari perempuan, tentu itu benar, namun tentu saja, kekuatan itu lebih kepada untuk melindungi, bukan untuk menyakiti.

SHARE
Blogger dan penulis lepas, redaktur Mojok.co

LEAVE A REPLY