SHARE
catcalling

Dalam rangka menyambut International Women’s Day 2017 yang jatuh pada 8 Maret, tagar #perempuanbersatu mulai membanjiri linimasa. Salah satu isu yang diunggulkan adalah perihal catcalling. Sebagai perempuan, ijinkan saya ikut berbagi.

1. Ketika itu saya masih SMP. Pulang dari pesantren hampir pukul sembilan malam, saya mengayuh sepeda sendirian. Jalanan memang sepi, tetapi jalur Tirtonadi itu lebih dekat daripada lewat alun-alun kota untuk menuju rumah.

Saya merasa diikuti oleh seseorang bermotor dari belakang. Dan benar saja, seorang seusia Bapak, memepet laju sepeda saya. Ia mulai bertanya nama saya, saya darimana, dan kemana tujuan saya. Saya ketakutan. Saya merasa sudah mengayuh lebih cepat, tapi ternyata kayuhan tetap lambat.

Ketika laki-laki itu menangkap ekspresi ketakutan saya, ia arahkan tangannya ke arah dada saya. Ketika saya makin ketakutan dan mengayuh sepeda sambil menangis, ia ulangi perlakuannya sambil tertawa beringas, kemudian meninggalkan saya, seorang remaja perempuan yang mengayuh sendirian di jalan gelap.

Budaya dan tradisi yang menganggap hal-hal berbau “seksualitas” adalah hal tabu untuk dibicarakan, serta stereotype tidak terhormat yang lebih sering disematkan pada perempuan, membuat saya tidak pernah membicarakan pengalaman itu kepada orang tua dan teman-teman. Saya memilih melewati hari dengan ketakutan yang sama pada suara-suara yang tampaknya membuntuti ketika berkendaraan di jalanan sepi sendirian.

Saya berjilbab, pulang mengaji.

2. Saya baru saja lulus SMA ketika pertama kali ke Jakarta sendiri via bus malam. Penumpang sebelah adalah seorang laki-laki yang mengaku baru saja mendapat kelahiran anak pertamanya. Ia bercerita soal istrinya dan soal betapa bahagianya ia dengan kelahiran anaknya. Saya, yang terlahir sebagai pembaca novel chicklit itu pun menganggapnya laki-laki dewasa baik hati yang sayang keluarga. Saya merasa ia tidak berbahaya.

Hingga, waktu beranjak semakin tengah malam. Ia yang menganggap saya sebagai gadis yang mudah diakrabi, mulai bertanya hal-hal pribadi. Ia semakin memepetkan badan. Saya menggeser badan hingga rapat ke jendela kaca bus. Ia terus menggeser badannya. Lalu, mulai meneror dengan ucapan-ucapan tidak senonoh tepat di telinga.

Kejadian semacam itu berlangsung cukup lama, saya hanya bisa diam dan melempar pandangan ke luar jendela. Puncaknya, ia tarik tangan saya ke arah kemaluannya. Saya, entah naluri darimana, berdiri sambil menangis ke arah toilet bus, sambil menangis di dalam toilet sejenak. Tuhan selamatkan saya dengan satu kursi kosong di bus paling belakang.

Saya berjilbab, bergamis rapat rangkap-rangkap, berkaus kaki.

3. Saya sudah jadi lebih berani dan tanggap pengalaman seperti sekarang. Kejadian serupa nomor dua terulang dengan step yang hampir sama. Seorang kakek-kakek mencoba bicara hal pribadi tepat di telinga. Kesal saya cueki, ia coba meraih fisik. Saya langsung teriak: “Tolong yang sopan, ya!”

Hingga, seluruh hadirin dalam bus mendengar. Lalu, saya minta tukar tempat pada penumpang bus lainnya. Saya tak peduli si kakek itu malu atau tidak. Yang jelas, ia tak berani mendekat ke saya hingga sampai di tujuan.

Saya berjilbab, bergamis rapat rangkap-rangkap, berkaus kaki.

4. Catcalling adalah siulan, seruan, gestur, dan komentar yang bertendensi seksual dan membuat orang merasa tidak nyaman, terganggu, malu, atau bahkan takut. Soal siul-siul di jalan itu, saya pikir kalian semua masih sangat sering mengalami.

Catcalling, kekerasan seksual yang paling sederhana itu, terjadi konon bukan karena dorongan seksual. Saya berjilbab dan bergamis rapat, tapi saya adalah korban. Struktur makro sosial membahas analisis struktur kekuasaan berbasis jenis kelamin. Hal itu menjelaskan soal pelecehan seksual sebagai bentuk ekspresi kekuasaan ketimbang persoalan ketidakcakapan mengelola dorongan seksual seperti yang diyakini oleh sebagian orang.

Setidaknya, pengalaman pribadi saya membuktikan hal tersebut. Soal pria kurang kerjaan yang iseng, lalu merasa berkuasa sebab melihat perempuan yang nampak lemah untuk ekspresi maskulinitas yang tidak pada tempatnya itu.

Saya pernah melalui hari-hari dilipur ketakutan dan itu tidak mudah. Meskipun hari ini, diri ini sudah lebih garang dan berani, akan tetapi tetap saja, budaya serta naluri perempuan yang terlanjur terbentuk sejak kecil, tidak bisa mencegah hal ini sendirian.

Kekerasan seksual dapat menimbulkan akibat yang serius dari perempuan. Secara fisik, ia akan menimbulkan luka, penyakit, bahkan kematian. Secara psikologis, ia akan membuat depresi, trauma, takut, dan syok.

Secara seksual, ia mampu mengakibatkan kerusakan/ disfungsi organ seksual dan penyakit menular seksual. Secara sosial, perempuan bahkan bisa diasingkan dari masyarakat, diusir dan dibatasi peluangnya untuk berkembang. Korban pelecehan seksual juga masih dilarang untuk mengikuti ujian, dipaksa atau bahkan ditekan untuk dikeluarkan secara paksa dari sekolah atau kampus.

Secara politik, korban kekerasan seksual akan kehilangan kesempatan untuk memegang sebuah jabatan politik dan instansi publik, juga tercabut hak-hak politiknya. Secara ekonomi, setelah segala pembatasan akses itu, ia tentu akan sulit untuk mencari pekerjaan dan memperoleh pendapatan yang layak.

Dan yang paling penting, korban kekerasan seksual tidak hanya merugikan korban, namun juga berpengaruh pada keluarga dan komunitas di sekelilingnya.

Kami butuh bantuan kalian, para lelaki, untuk saling menjaga. Caranya sederhana, tempatkan maskulinitas pada tempatnya. Maskulinitas bukanlah medium untuk menguasai orang lain yang lebih lemah sehingga laki-laki terkesan lebih hebat.  Sederhananya, ingatlah ibu kalian

LEAVE A REPLY