SHARE
berkelahi

“Kalau kau memang punya nyali, ayo selesaikan masalah ini secara jantan!”

Itu adalah percakapan yang sering kali muncul dalam fragmen adegan film atau sinetron, tak jarang, ia juga muncul dalam adegan realita yang sebenarnya. Baik di film atau di kejadian nyata, percakapan di atas hampir selalu muncul pada momen yang sama: momen saat seorang lelaki menantang berkelahi lelaki lainnya karena adanya perselisihan masalah.

Entah kapan dan siapa yang memulainya, namun yang jelas, penyempitan makna “secara jantan” sebagai sebuah perkelahian ini memang sudah kadung melekat di benak banyak orang, terutama lelaki.

Banyak lelaki yang masih menganggap berkelahi sebagai solusi paling terhormat untuk menyelesaikan masalah. Dan tak sedikit wanita yang mengamininya. Sehingga tak heran jika kemudian berkelahi menjadi barometer kejantanan seseorang.

Lantas, apakah hal ini kemudian menjadi sebuah pembenaran? Tentu tidak. Sekali lagi. Tidak.

Bahwa seorang lelaki memang dianjurkan untuk menjadi kuat, tentu itu jelas, karena memang begitulah kodratnya. Namun begitu, hal tersebut tak lantas kemudian membuat lelaki harus akrab dengan berkelahi. Kekuatan seorang lelaki pada dasarnya lebih karena ia adalah makhluk yang punya tanggung jawab yang besar. Kekuatannya seorang lelaki adalah bahan bakar utama untuk bekerja, untuk mengorganisir apa yang dipimpinnya, untuk mendidik dan melindungi apa yang ia punya tanggung jawab atasnya. Dan urusan berkelahi hanya setitik bagian darinya. Bukan yang utama.

Memang, bahwa pada zaman dahulu, perkelahian, dan adu ilmu kanuragan menjadi salah satu parameter kewibawaan. Namun, seiring berjalannya waktu, seiiring semakin majunya peradaban, ilmu kecerdasan berfikir menjadi semakin penting ketimbang sekadar ilmu kanuragan.

Di jaman sekarang, kewibawaan seorang lelaki lebih banyak dipengaruhi oleh keluasan ilmu, kebijakan berpikir, rasa tanggung jawab, kecerdasan emosi, sampai kedewasaan diri. Konsekuensinya adalah, berkelahi bukan lagi menjadi faktor penentu berwibawa atau tidaknya seorang lelaki.

Saya jadi ingat salah satu scene adegan di film IP Man 2, dalam adegan tersebut, Yip Man yang seorang guru bela diri Kungfu itu ditanya oleh salah satu muridnya, “Guru, jika kau berhadapan dengan sepuluh musuh, apa yang akan kau lakukan?”

Jawaban sang Guru sungguh tak terduga: “Lari.” Sang murid yang bertanya kemudian Nampak sedikit kecewa dengan jawaban gurunya.

“Kau boleh saja menguasai ilmu bela diri yang tinggi, tapi jika kau bisa lari dan menghindari perkelahian, kenapa tidak?” lanjut sang guru.

Adegan yang sebenarnya sangat sederhana ini mengajarkan kepada kita, bahwa tak semua masalah harus diselesaikan dengan berkelahi. Ada banyak cara yang lebih tentu lebih bijak dan lebih mungkin untuk dilakukan selain berkelahi.

Mampu menyelesaikan masalah dengan berkelahi mungkin membuat seseorang menjadi ditakuti. Namun memilih menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan diskusi akan membuat seseorang disegani dan dihormati.

Dan sebagai lelaki, tentu kita tahu, lebih baik mana, menjadi ditakuti, atau disegani/dihormati?

SHARE
Blogger dan penulis lepas, redaktur Mojok.co

LEAVE A REPLY