SHARE
father and son

Bahwa beban nafkah keluarga adalah tangung jawab ayah tentu memang benar adanya, namun menganggap tugas ayah semata hanya mencari nafkah sedangkan mengurus anak adalah tugas ibu semata tentu adalah pemikiran yang sangat perlu dikoreksi ulang.

Mencari nafkah tidak lantas menggerus fungsi ayah sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Pada titik tertentu, sosok ayah juga diwajibkan untuk bisa mengurus dan mengasuh anak, terlebih ketika ayah berperan menjadi figur yang mencolok bagi anak-anaknya.

Nah, Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan agar peran ayah semakin melengkapi kehadiran peran ibu sebagai seorang pengasuh sehingga bisa semkain merekatkan ikatan antara ayah dan anak.

Pandangan bahwa seorang ayah harus mengajar anak perihal ketangguhan

“Jadi laki-laki tidak boleh kalah.”

“Jadi laki-laki tidak boleh cengeng.”

“Kalau ada teman yang nakal, anak laki-laki harus berani membalas. Jangan lari lalu malah menangis.”

Para ayah sering menganggap bahwa ia memiliki tugas untuk menegaskan hal-hal yang bersifat “jantan” semacam itu kepada anak-anak. Anjuran itu tidak sepenuhnya keliru. Anak lelaki, memang semestinya tangguh, kuat, dan tidak senang lari dari kesulitan, tetapi, alangkah baiknya apabila dilengkapi dengan pemahaman lain. Misalnya:

“Anak laki-laki yang baik tidak memulai kegaduhan. Jika terlibat sebuah pertengkaran, anak laki-laki yang baik bisa menahan diri dan mencari kesempatan untuk berdialog.”

“Anak laki-laki yang baik boleh kalah. Anak laki-laki yang keren bisa belajar dari kekalahan dan mau berjuang kembali untuk meraih harapan yang ingin dicapai.”

Lihat, ada perbedaan mencolok antara bentuk pertama dan bentuk kedua. Bentuk kedua sesungguhnya justru meringankan beban yang selama ini menjadi stigma laki-laki jantan. Lelaki yang tangguh sesungguhnya adalah lelaki yang berjiwa lapang dan penuh kelembutan.

Menunjukkan kasih sayang lewat ungkapan verbal

Sebagian besar ayah malu untuk mengungkapkan kasih sayang pada enak secara langsung lewat ungkapan verbal sebagaimana kaum Ibu yang gemar mengucap “Ibu sayang kamu, Nak” sambil mengelus rambut atau punggung anak. Ada ayah dan ibu yang bahkan memiliki kesepakatan soal ibu berperan penuh kelembutan sedangkan ayah memiliki peran untuk tegas (yang dimaksud tegas adalah galak) dan tidak boleh terlalu dekat pada anak, khawatir anak akan menjadi manja.

Padahal, kesepakatan itu justru menghadirkan kebingungan dan sikap antipasti anak pada salah satu dari orangtua. Misalnya, ketika anak meminta ijin untuk menghadiri konser musik, si Ibu meskipun ragu-ragu tetap memberi izin, sedangkan si ayah menolak bahkan dengan nada tinggi. Anak akan kebingungan mengapa sikap orangtua mereka berbeda. Anak akan menganggap bahwa ibu lebih menyayangi mereka daripada ayah. Selanjutnya, mereka akan antipati pada nasehat-nasehat ayah mereka, kemudian menjauh. Dan seterusnya.

Jika ayah tetap malu secara langsung mengungkapkan kasih sayang pada anak, ada solusi yang kami tawarkan. Berbicara “Ayah sayang kamu, Nak” mungkin berat bagi laki-laki yang tidak biasa. Oleh karenanya, kalimat tersebut dapat diganti menjadi:

“Ayah bisa bantu apa untuk tugas kamu di sekolah?”

“Ayah boleh lihat foto kamu dan teman-temanmu?”

“Ayah senang jika kamu mau bersungguh-sungguh untuk ujian minggu depan. Ayah doakan agar hasilnya baik.”

Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan kehadiran ayah dan simbol implisit bahwa ayah peduli pada perkembangan anak.

Menjadi Figur Tempat Anak Selalu Ingin Kembali

Seorang anak yang dibesarkan tanpa ayah harus mengatasi sendiri ketidakhadiran sosok ayah tersebut. Ketidakhadiran yang dimaksud adalah bahwa meskipun fisik ayah dapat dilihat di dalam rumah, anak tidak mampu mengidentifikasi sifat, sikap serta peran ayah dalam keluarga dan kehidupan. Anak lebih memampu kembali dan mengidentifikasi dirinya pada figure di luar ayah sebab identitas tokoh-tokoh itu lebih mudah dikenali. Misal, tokoh utama dalam film televisi yang sedang digandrungi banyak orang, memiliki sikap yang pemberani, selalu menang beradu fisik di sekolah, dan lain-lain. Anak lebih mudah memasukkannya dalam ingatan sebab tokoh itu hadir dan memperkenalkan diri setiap hari.

Maka, penting bagi sosok ayah untuk memperkenalkan diri pula pada anak. Misalnya, ketika anak tengah mengungkapkan keinginannya untuk menjadi musisi atau ilmuwan, ayah bisa juga bercerita tentang cita-citanya. Ketika anak bercerita tentang pengalaman sehari-hari di sekolah, ayah juga boleh menceritakan pengalaman-pengalaman menariknya di masa lalu. Dari cerita-cerita ayah, anak dapat belajar mengenai persahabatan, kepercayaan, kerja keras dan lain-lain. Anak pun dapat menarik nilai yang positif dan negatif dari obrolan yang dikemas dengan santai itu.

Membagi Cerita Kekalahan pada Anak

Orangtua menganggap bahwa menjadi orangtua artinya tak boleh tampak lemah. Sikap kalah, lemah, ketakutan, terisolasi, ragu, meskipun sangat manusiawi, alhasil jarang ditunjukkan di depan anak-anak. Orangtua seringkali lupa bahwa pada masa perkembangan mereka mulai dari kecil, remaja dan bahkan ketika dewasa saat berkompetisi di dunia pekerjaan pun masih mengalami banyak kegagalan yang berbuah jenis-jenis rasa menyakitkan itu. Yang lebih buruk, sikap defensif yang asalnya dari orangtua itu membuat anak takut menyalurkan rasa takut, terisolasi dan perasaan kekalahan yang dihadapinya.

Alangkah lebih baiknya jika ayah sekali-kali berkata,”It’s okay, Nak, kalah memang menyakitkan. Ayah pun berkali-kali mengalaminya. Sakit sekali rasanya. Tetapi akan lebih tidak enak jika menyimpan ketakutan terlalu lama.”

Tunjukkan kepada anak bahwa seorang ayah bisa menerima dan ikut merasakan rasa sakit yang dialami anak untuk memberi penguatan awal kepada mereka.

SHARE
Blogger dan penulis lepas, redaktur Mojok.co

LEAVE A REPLY