SHARE
keluarga

Dalam salah satu novel masterpiece-nya yang berjudul Anna Karenina, Leo Tolstoy memulai cerita seperti ini: “Keluarga bahagia semuanya sama; setiap keluarga yang tidak bahagia, menjadi tidak bahagia dengan caranya masing-masing.”

Selanjutnya, novel dengan halaman yang cukup tebal tersebut bercerita tentang kisah percintaan tragis tokoh bernama Anna Karenina yang memilih mengakhiri hidup dengan menabrakkan diri ke kereta api karena tak kuat lagi menanggung malu akibat perselingkuhan demi menggapai cinta sejati.

Di buku karya Leo Tolstoy lainnya yang berjudul Keluarga Bahagia, narasi-narasi yang dibangun Tolstoy lewat tokoh Sergei Mihailovich dan Marya Alexandrovna yang terpaut usia cukup jauh berkutat tentang bagaimana membangun sebuah keluarga yang berujung bahagia. Saling mengenal sejak Marya kecil, timbul benih cinta saat Marya berusia 17 tahun, menikah, datang masalah yang cukup mengganggu rumah tangga mereka, hingga akhirnya berdamai dengan diri masing-masing dan menemukan kebahagiaan dengan caranya masing-masing.

Berjarak puluhan tahun setelahnya, buku ini menyadarkan Christopher Johnson McCandless untuk segera kembali berkumpul bersama keluarga usai berkelana setelah sebelumnya meninggalkan bangku kuliah dan membakar seluruh uang dan kartu identitas yang ia miliki. Sayangnya Saat hendak meninggalkan Alaska di musim semi, sungai yang sebelumnya membeku saat ia lewati di musim dingin, mencair dan berarus deras. Ia tewas. Cerita ini bisa kita temukan di buku berjudul Into the Wild yang merupakan hasil riset mendalam Jon Krakauer.

Dalam Anna Karenina juga Keluarga Bahagia, konstruksi cerita yang dibangun Tolstoy memang berpusat pada gagasan membangun sebuah rumah tangga. Seperti apa keluarga dan rumah tangga yang baik dan buruk menurut Tolstoy saya rasa cukup jelas digambarkan dalam dua karyanya tersebut. Dalam banyak hal, saya merasa harus mengamini gagasan Tolstoy tentang keluarga di dua karyanya itu.

Pada film epic berjudul The Godfather yang diadaptasi dari novel karya Mario Puzzo, ada satu kutipan yang terus menerus membekas dalam ingatan, Don Corleone berkata seperti ini: “A man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.” Tesis Don Corleone dan narasi-narasi Tolstoy, banyak saya pakai sebagai pengingat dalam membangun sebuah rumahtangga.

Tepat seminggu yang lalu, saya dan istri merayakan ulang tahun pernikahan kami yang pertama. Jadi rasa-rasanya kami masih layak disebut pengantin baru, meskipun tidak benar-benar baru tentunya. Sebagai pasangan baru, kami benar-benar merintis sebuah rumah tangga dari nol, dengan modal yang sangat minim. Selama setahun usia pernikahan ini, kami belajar berproses menjalani rumah tangga.

Setelah menikah, tak ada bulan madu bagi kami. Kami langsung bergerak ke Yogya, menyewa sebuah rumah di utara Yogya, dan mulai menata rumah tangga. Kerja-kerja rumah kami distribusikan secara proporsional. Memasak, mencuci pakaian dan peralatan makan, menyapu dan mengepel lantai, bayar listrik dan air bersih, silih berganti kami kerjakan. Bagi tugas.

Adakalanya saya yang memasak, istri mencuci pakaian. Lain waktu saya yang menyapu lantai, istri melanjutkan mengepel. Dan yang paling sering, saya mencuci peralatan makan dan peralatan memasak, istri mengurus pekerjaan-pekerjaan lainnya. Begitu terus bergantian jika saya sedang berada di rumah. Distribusi kerja semacam ini, kami yakini sebagai sebuah proses sehat dalam membangun rumah tangga.

Dalam perkara mencari uang untuk penghidupan, kerjasama tetap kami lakukan. Saya bekerja di luar rumah, istri bekerja di rumah di sela kerja-kerja rutin mengurus rumah tangga. Semua ini dimulai dengan diskusi-diskusi yang rutin dilakukan. Segala pembagian tugas, harus didiskusikan.

Dari hal-hal kecil semacam inilah kami mencoba membangun rumah tangga yang sehat, berusaha mereduksi sekat-sekat primordialisme yang menyebabkan ada dominasi satu anggota keluarga terhadap anggota keluarga lainnya. Sekat-sekat yang akhirnya memaksa harus ada yang menyakiti dan disakiti, lebih dari itu, harus rela dan pasrah dan menganggap semua itu memang sudah kodrat yang mesti diterima.

Diskusi, kerjasama, setia dan patuh pada pembagian-pembagian peran yang proporsional, kemudian merefleksikan semua itu bersama-sama, saya kira adalah kerangka yang baik untuk sebuah fondasi rumah tangga. Muara dari semua ini, tentu saja keluarga yang bahagia.

Kembali ke pernyataan Leo Tolstoy yang saya kutip di bagian awal tulisan ini, menuju keluarga yang bahagia, memang ada kemiripan proses untuk meraihnya. Skema aksi-refleksi yang tiada henti dari diskusi dan kerjasama dalam sebuah rumah tangga memang tak boleh berhenti hingga ikatan keluarga benar-benar dipisahkan oleh kematian.

Dan saya kira, bagi saya pribadi, jika proses ini tertib kami lakukan, keluarga kami akan baik-baik saja. Tentu dengan syarat utama: tetap merawat cinta di antara kami.

SHARE
Penikmat makanan berbahan dasar kambing, pendengar setia Rage Against The Machine. Relawan di Sokola

LEAVE A REPLY