SHARE
ayah dan anak

Meskipun keluarga adalah lingkar paling dekat dalam keseharian anak, tetapi ternyata anak justru tidak memperoleh nilai-nilai yang ia yakini dari orangtuanya, padahal, orangtua adalah sekaligus pihak yang paling bertanggungjawab dalam fase perkembangan mereka. Apalagi jika berbicara soal maskulinitas, sudah barang tentu anak cenderung mendapat pengetahuan dari selain orangtua.

Di rumah, setelah memenuhi kebutuhan pokok dan membayarkan biaya pendidikan, orangtua merasa cukup dan lebih merasa penting untuk mengecek peringkat akademik anak di sekolah. Hal lain yang menunjang pembentukan karakter seperti teman dalam pergaulan anak masih cukup tabu untuk menjadi obrolan, lebih-lebih soal maskulinitas yang berasosiasi erat dengan seksualitas, baik perubahan fisik maupun mental.

Asumsi tabu tersebut berakibat anak mendapat pengaruh persepsi paling berpengaruh terutama dari televisi dan media. Televisi menyumbang berderet judul sinetron dengan tokoh khas laki-laki antagonis pelaku kekerasan verbal dan kekerasan fisik. Skema yang dikomunikasikan sinetron, misalnya, lelaki yang mampu melindungi perempuan sebab fisik yang mumpuni untuk berkelahi adalah lelaki ideal.

Remotivi, sebuah lembaga peneliti siaran televisi, misalnya, mengungkap bahwa dalam satu pekan episode sebuah sinetron yang tayang pada jam prime time, tercatat ada 11 kali adegan yang ditayangkan  melakukan perkelahian fisik laki-laki remaja dengan durasi rata-rata selama 1-3 menit. Bahkan, di dalamnya ada juga satu adegan pemukulan dengan menggunakan benda tumpul.

Tidak hanya itu, Remotivi melansir sinetron ini mengajarkan menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi dengan kekerasan fisik. Sehingga jelas bahwa tayangan sinetron tersebut  gagal menunjukkan cara menyelesaikan masalah dengan baik tanpa adanya kekerasan fisik. Celakanya, tokoh utama laki-laki dalam sinetron itu sangat digandrungi para remaja.

Konsep maskulinitas dalam sajian drama layar ini telah berlangsung sejak dulu, sejak era cerita wayang, dongeng, drama kolosal hingga era milenial masa kini. Selain sinetron, dunia periklanan juga memiliki andil dalam mengonsepsi maskulinitas. Terakhir, internet menggenapkan pandangan keliru atas maskulinitas lewat game-game yang mempromosikan kekerasan.

Organisasi Men Can Stop Rape, melalui program Men of Strength Club (MOST Club), telah merintis program pencegahan kekerasan yang memberikan informasi kepada para pemuda di sekolah menengah, sekolah tinggi, dan perguruan tinggi tentang maskulinitas yang mendukung hubungan antar gender yang lebih setara. Ada beberapa strategi menarik yang dapat dilakukan untuk melakukan pendekatan pada anak.

Orangtua mesti menyadari pentingnya mengenali lingkungan pergaulan terdekat anak. Ingat, dalam fase perkembangan remaja, di mana sekaligus posisi dan peran maskulinitas mulai menemukan fungsinya, anak justru mulai menjauh dari orangtua dan merasa lebih nyaman kepada teman terdekatnya.

Ketika teman dekat anak telah menerima kehadiran orangtuanya, diharapkan orangtua akan lebih mudah memberikan penyadaran nilai-nilai yang kita harapkan. Dengan demikian, orangtua juga akan lebih mudah mengawasi obrolan serta sumber belajar dan hiburan yang mereka konsumsi.

Orangtua kelak akan mudah mengarahkan topik obrolan dalam lingkar pergaulan anak. Misal, topik penggambaran karakter fiktif laki-laki yang dihargai karena memenangi peperangan dan mendapatkan si gadis di akhir cerita.

Orangtua dapat memancing diskusi bagaimana seorang lelaki semestinya harus bertindak. Pelan-pelan, orangtua dapat menjelaskan bahwa gagasan tradisional perihal maskulinitas laki-laki yang terhormat sebab memenangi kekerasan bukanlah jalan yang tepat untuk menjadi sosok lelaki sejati. Setelah anak menerima teori tersebut, sebutkan contoh-contoh lain yang membuat laki-laki terhormat, misalnya lewat intelektualitas dan rasa tanggung jawab.

Seiring perkembangannya, remaja juga memulai pencarian jati diri. Dalam fase ini, mereka biasanya mulai memiliki sosok idola yang ia kagumi, semacam sosok yang ingin mereka tiru, atau biasa kita sebut sebagai role model.

Saking pentingnya role model, orangtua mesti mengambil celah untuk mengarahkan pilihan anak terhadap sosok role model yang membawa pesan maskulinitas anti kekerasan.

Dalam banyak kasus, pemilihan role model remaja laki-laki biasanya jatuh pada selebriti atau tokoh-tokoh populer. Tak jarang remaja laki-laki yang mengidolai selebriti pecandu narkoba sekaligus pelaku kekerasan seksual sebab televisi tetap mencitrakan sosok itu sebagai laki-laki keren yang digilai banyak wanita sebab ia adalah vokalis band yang mengoleksi mobil-mobil sport, misalnya.

Mendampingi pencarian pada sosok role model juga lebih efektif lewat hadirnya sosok ayah yang memberi keteladanan dalam keluarga. Kehadiran sosok ayah yang baik adalah contoh nyata adanya banyak lelaki yang memiliki sifat penyayang, bertanggung jawab, dan tidak suka kekerasan.

Poin paling mendesak dari beberapa strategi di atas utamanya adalah mulai dari pandangan orangtua agar tidak merasa tabu untuk membiasakan diskusi perihal maskulinitas. Sosok ayah dan ibu yang setara dalam pembagian peran dalam keluarga akan menghadirkan rasa nyaman pada anak. Anak laki-laki yang cukup kasih sayang sejak di rumah adalah elemen penting yang membentuk karakter anti-kekerasan.

SHARE
Blogger dan penulis lepas, redaktur Mojok.co

LEAVE A REPLY