SHARE
women march

21 Januari 2017 lalu merupakan momen yang sangat krusial bagi pergerakan identitas perempuan di seluruh dunia. Bagaimana tidak, ratusan ribu orang turun ke jalan di Washington DC, Amerika Serikat, untuk menyatakan penolakan terhadap presiden AS yang sehari sebelumnya baru saja dilantik, Donald Trump.

Aksi protes ini diprakarasai oleh perempuan dan diberi tajuk Women’s March.

Tak hanya di Washington DC saja, aksi protes dengan tajuk serupa juga terjadi di Boston, Chicago, New York, hingga ke belahan dunia lain seperti Cape Town dan Australia. Tak tanggung-tanggung, total jumlah peserta aksi Women’s March di seluruh dunia diperkirakan mencapai hingga 4,6 juta orang.

Aksi protes tersebut tak pelak menjadi momentum dimana perempuan berhasil mencetak rekor dalam sejarah. Dan yang terpenting adalah bahwa perempuan telah mengukir sejarah yang tak lagi dikooptasi history, namun telah bermetamorfosa menjadi herstory.

Kemarahan ini sendiri dipicu sikap Donald Trump yang kerap melontarkan pernyataan bernada diskriminatif-agresif dan dengan sengaja mengabaikan hak azasi manusia, khususnya dalam isu perempuan. Belum lagi skandal pelecehan yang terus membayanginya; menjadikan posisinya semakin kokoh sebagai ikon laki-laki misoginis nomor 1 masa kini. Wajar, jika kemudian rakyat Amerika, khususnya perempuan, sangat marah dan memutuskan untuk melakukan aksi protes.

Aksi dahsyat ini telah berlalu, namun semangatnya masih menyala hingga kini. Sebagai perempuan dan laki-laki yang menjunjung hak-hak perempuan dan kemanusiaan, tentu banyak dari kita yang terinspirasi oleh Women’s March. Berikut beberapa hal yang dapat kita pelajari dari Women’s March yang lalu.

1. Rasa kemanusiaan universal yang tinggi

Meskipun bertajuk Women’s March, bukan berarti momen ini hanya menjadi hegemoni kelompok perempuan saja. Di setiap sudut aksi, keberadaan partisipan laki-laki selalu dapat ditemukan dengan mudah. Begitu juga dengan gender ketiga. Tak hanya majemuk dari segi kelompok gender saja. Mulai dari bayi berumur setahun hingga lansia berumur lebih dari 70 tahun. Ras kulit putih hingga ras Cina dan Arab. Kristen methodis hingga muslim. Serta berbagai macam manusia lainnya tumpah ruah memenuhi jalanan.

Meski berbeda-beda, namun mereka digerakkan oleh sentimen yang sama – kemanusiaan universal. Sehingga Women’s March tak lagi hanya semata menjadi ‘porsi’ bagi perjuangan perempuan saja, namun juga menjadi milik seluruh perjuangan kemanusiaan.

Bayangkan jika kita disini juga dapat bersatu dan berkumpul untuk memperjuangkan isu perempuan – dan isu lainnya, terlepas dari perbedaan gender, suku, agama, golongan usia, maupun perbedaan lainnya. Tentu Bhinneka Tunggal Ika tak lagi hanya menjadi sekedar slogan.

2. Menjadi momen solidaritas dan sinerjitas antar isu

Pada aksi Women’s March yang lalu, kerap terlihat para partisipan aksi mengangkat poster-poster kampanye yang sangat kreatif dan unik. Jika diperhatikan, isi dari poster-poster tersebut tak hanya membahas seputar isu perempuan saja. Isu-isu lainnya yang juga sedang hangat diperbincangkan di AS seperti isu rasialisme (Black Lives Matter), isu imigran Suriah, hingga isu DAPL yang merusak lingkungan hidup dan memarjinalkan komunitas adat Indian juga menjadi topik-topik utama dalam Women’s March ini.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dan sinerjitas antar isu sangat diperlukan untuk semakin memperkokoh pergerakan. Terutama di Indonesia, dimana selama ini pergerakan perempuan kerap dicap ekslusif dan tidak membumi.

Jika isu-isu perempuan seperti kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, disinerjikan dengan isu lainnya seperti isu pendidikan dan keadilan sosial maka tentu saja pesan yang hendak disampaikan akan lebih meluas. Dan semakin menunjukkan bahwa lagi-lagi, persoalan kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya persoalan perempuan saja. Ia adalah persoalan kita semua.

3. Tidak melupakan aksi nyata setelah aksi solidaritas

Setelah gegap gempita Women’s March usai, para partisipan aksi yang merupakan perempuan dan juga kelompok masyarakat lainnya di Amerika tak serta merta puas. Kini, berbagai organisasi akar rumput dan juga bentuk-bentuk konsolidasi gencar diinisiasi oleh para ‘alumnus’ aksi Women’s March. Bahkan salah satu partai di AS menyediakan kelas-kelas politik bagi perempuan dan kelompok minoritas lainnya untuk bisa mengadvokasi dirinya dan juga kelompoknya.

Hal ini tentu dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Aksi solidaritas tentu sangat diperlukan sebagai momentum persatuan dan pertunjukan kekuatan. Namun yang lebih penting adalah bagaimana tindakan riil selanjutnya untuk mengantisipasi persoalan yang ada.

Misalnya dalam isu kekerasan dalam rumah tangga, sekedar melakukan aksi dan diskusi tentu tidak cukup. Aksi riil yang bersifat personal maupun kolektif harus menjadi tindak lanjut setiap aksi. Menjadi support system bagi korban yang kebetulan kita kenal, maupun membentuk ruang-ruang konseling bagi korban adalah hal-hal yang dapat kita lakukan. Karena hal inilah yang akan berdampak lebih langsung bagi si korban, sebagai fokus utama dalam isu kekerasan dalam rumah tangga.

Masih banyak hal lainnya yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari Women’s March yang lalu. Meski banyak pro kontra, namun tak dapat dipungkiri bahwa aksi kemarin telah, sedang, dan akan membawa perubahan bagi banyak orang. Baik itu perempuan, laki-laki, kulit hitam, kulit putih, muslim maupun kristen.

Kini, banyak negara dan wilayah lainnya sedang merencanakan Sister’s March, sebuah aksi solidaritas yang terinspirasi dan menjadi bagian dari Women’s March yang telah terlaksana. Mungkin saja akan ada Sister’s March di kotamu. Atau bahkan kamu bisa menjadi inisiatornya. Dengan begitu, maka sampai jumpa di Sister’s Mach selanjutnya!

SHARE
Beribu boru Hutasuhut dan berayah Nasution. Tremor. Punya keahlian ngelamun, bahkan (dan terutama) di tengah-tengah diskusi yang memanas

LEAVE A REPLY