SHARE
kekerasan terhadap perempuan

Kini, ada banyak sumber informasi yang bisa kamu temukan yang membahas tentang perlawanan kekerasan terhadap perempuan. Baik itu sumber berupa buku, esai, artikel dan komik, maupun sumber-sumber lainnya seperti informasi yang didapat melalui akun-akun media sosial yang aktif mengampanyekan isu kekerasan terhadap perempuan.

Semakin banyaknya sumber informasi ini juga diimbangi dengan semakin banyaknya kegiatan-kegiatan yang membahas isu kekerasan terhadap perempuan. Kamu dapat terlibat di berbagai kegiatan kampanye ini, seperti diskusi, pemutaran film, aksi, maupun festival seni yang bertajuk melawan kekerasan terhadap perempuan.

Biasanya, kegiatan-kegiatan semacam ini diinisiasi oleh organisasi-organisasi kampus, LSM, maupun lembaga negara seperti Komnas Perempuan, Komnas Anak dan juga KPAN. Informasinya juga sudah lebih mudah kamu temukan melalui mading-mading kampus, website resmi penyelenggara maupun lewat media sosial sebagai cara yang paling ampuh.

Isu kekerasan terhadap perempuan kini tak lagi setabu dulu untuk diperbincangkan. Pun pembahasannya tak lagi seputar bahwa isu ini hanya berkaitan dengan ranah domestik, namun juga sudah merambah hingga ke ranah publik. Namun hingga kini, mayoritas yang terlibat dalam setiap perbincangan dan pergerakan melawan kekerasan terhadap perempuan adalah perempuan saja. Tidak banyak laki-laki yang terlibat dalam isu ini.

Fenomena ini patut dimaklumi. Tidak bisa dipungkiri banyak laki-laki yang menganggap bahwa ini bukanlah ‘urusan’ mereka dan tidak berdampak apa-apa terhadap mereka. Bahkan ada beberapa laki-laki yang menganggap bahwa meningkatnya atensi terhadap isu semacam ini akan mengancam ‘kelelakian’ mereka.

Tidak hanya dari laki-laki saja. Banyak perempuan yang aktif dalam isu ini juga menganggap bahwa lelaki sebaiknya tak diikutkan. Padahal tahu gak, girls, sebenarnya laki-laki juga harus dilibatkan loh, dalam melawan kekerasan terhadap perempuan! Mau tahu kenapa? Ini dia tiga alasan utama kenapa kamu harus melibatkan laki-laki dalam melawan kekerasan terhadap perempuan:

1. Ini bukan hanya masalah perempuan, namun juga masalah laki-laki

Mayoritas kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di rumah tangga menempatkan perempuan sebagai korban. Hal yang paling umum terjadi adalah suami yang memukul istri.

Tak jarang hal ini terjadi di depan anak-anak mereka, yang tentunya akan menimbulkan trauma berkepanjangan bagi si anak.

Trauma ini berdampak buruk bagi kondisi psikologis anak laki-laki, khususnya, seperti gampang takut, mudah marah dan gampang melakukan tindak kekerasan kepada orang lain. Jadi tindak KDRT tidak hanya menghancurkan perempuan sebagai korban langsung kekerasan fisik/ verbal, namun juga si anak laki-laki sebagai saksi kejadian yang akhirnya menjadi korban tidak langsung KDRT tersebut.

Anak-anak ini pun kemudian tumbuh dengan anggapan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah hal yang wajar sehingga akan terjadi pola berulang.

Ketika beranjak dewasa dan menjalin hubungan dengan pasangannya, laki-laki tersebut akan melakukan hal yang sama seperti yang dulu dilakukan si ayah kepada ibunya.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Dan satu-satunya cara untuk memutus mata rantai kekerasan tersebut adalah dengan melibatkan langsung laki-laki dalam perbincangan dan pergerakan isu ini. Agar laki-laki tidak lagi menjadi pelaku, ataupun menjadi saksi yang diam saja, dan bahkan dapat menjadi inisiator pencegah kekerasan terhadap perempuan.

2. Masalah kekerasan terhadap perempuan adalah masalah kemanusiaan

Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi di rumah tangga. Di ranah publik, perempuan kerap mengalami kekerasan. Dan kekerasan tersebut tidak hanya berputar di sekitar persoalan kekerasan fisik maupun kekerasan yang memiliki sentimen personal. Perempuan kerap mengalami kekerasan ekonomi, kekerasan sosial, dan kekerasan lainnya yang membuat masalah-masalah kemanusiaan semakin buruk.

Perempuan baik sebagai individu maupun golongan sangat dimarjinalkan sehingga kerap mengalami kekerasan. Dan selama masih ada yang termarjinal di dunia ini, maka kemanusiaan kita belumlah sepenuhnya baik. Oleh karena itu, laki-laki harus terlibat karena ini bukan hanya soal pergerakan identitas satu golongan saja, girls. Ini adalah persoalan kemanusiaan.

3. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

Perempuan dan kekerasan yang terjadi terhadapnya merupakan fakta nyata yang tak dapat kita nafikan lagi. Ia terjadi di sekitar kita dan orang-orang terdekat kita; keluarga, teman, rekan kerja, dll. Ia menyasar semua golongan; kaya, miskin, muda, tua, berpendidikan maupun tidak.

Hal ini merupakan problem nyata yang harus kita atasi bersama. Jika kita bergerak sendiri-sendiri tanpa melibatkan laki-laki yang memiliki peran nyata dalam masalah ini (baik sebagai pelaku, korban, dll) maka tentu saja pergerakan ini tidak bisa solid. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Dengan bersatu, pesan yang kita sampaikan melalui kampanye akan mengena ke semua pihak. Bahwa ini tidak hanya sekedar persoalan perempuan, namun juga persoalan laki-laki. Lebih dari itu, bahwa ini adalah persoalan kemanusiaan.

SHARE
Beribu boru Hutasuhut dan berayah Nasution. Tremor. Punya keahlian ngelamun, bahkan (dan terutama) di tengah-tengah diskusi yang memanas

LEAVE A REPLY