SHARE
Mulan Jameela

Tidak ada istri kedua yang lebih malang ketimbang Mulan Jameela.

Ketika Ahmad Dhani memutuskan maju ke bursa pemilihan bupati Bekasi, berpasangan dengan Sadudin dengan dirinya sebagai bakal calon wakil bupati, yang turut dibawa-bawa adalah posisi istri keduanya, Mulan. Serangan kepada Mulan, yang terjadi di mana lagi kalau bukan di media sosial, datang dari para perempuan.

Sejak perceraian Dhani dengan Maia Estianty, hidup Mulan menjadi penuh cercaan dan tudingan sebagai perebut suami orang. Bahkan ketika selebritas yang hidup di belahan dunia lain, Brad Pitt dan Angelina Jolie berpisah—dengan sejumlah komentar bahwa ini karma Jolie yang merebut Pitt dari mantan istrinya, Jennifer Aniston—nama Mulan tetap terseret. Tidak bisa tidak, Mulan sudah menjadi simbol tukang rebut suami di Indonesia.

Respons atas kasus Mulan dan Jolie adalah contoh bagaimana perempuan juga memanggul cara pandang yang bias gender atas kaumnya sendiri. Bahwa ketika lelaki beristri melirik perempuan lain, ini adalah kesalahan perempuan yang dilirik. Komentar yang umum muncul, “Ya ngapain juga dia (perempuan kedua) ngeladenin (si laki-laki).” Bias itu sangat terasa ketika muncul istilah pelakor alias perebut laki orang, tetapi tidak ada istilah perebut istri orang.

Jika dalam perceraian saja perempuan yang ditimpakan kesalahan, bagaimana dengan kekerasan pada perempuan? Jangan-jangan yang muncul juga dugaan bahwa si istri tidak cukup baik sehingga wajar apabila suaminya memukul? Dan apabila perempuan sendiri mendukung kekerasan dan stigmatisasi pada sesama perempuan, lalu siapa yang bisa mencegah kekerasan?

Seharusnya laki-laki bisa.

Mungkin ini sekilas terdengar aneh. Namun, ada beberapa pertimbangan yang membuat laki-laki punya posisi untuk memengaruhi perempuan dalam mengubah cara pandangnya.

Struktur patriarki membuat laki-laki menikmati perlakuan istimewa dan kekuasaan lebih daripada perempuan. Raewy Connel (1996) menyebutnya “dividen patriarki”. Keistimewaan ini membuat laki-laki punya suara yang lebih kuat dalam keluarga, apalagi dalam kelompok perempuan. Kekuasaan yang ada di tangan laki-laki, yang terlihat dari dominasi mereka di keluarga, adat, agama, pemerintahan, pendidikan, ekonomi, hingga seni, membuat laki-laki punya akses lebih besar untuk mengampanyekaan kesetaraan perempuan-laki-laki.

Sejarah membuktikan bahwa laki-laki tak mesti menentang perjuangan perempuan untuk mendapatkan kesetaraan. John Stuart Mill, salah satu pelopor gerakan feminisme di akhir abad ke-19 adalah laki-laki. Contoh lainnya ialah gerakan White Ribbon yang bermula di Kanada pada 1991. White Ribbon adalah jaringan laki-laki pro-feminis yang mengampanyekan keterlibatan laki-laki dalam menghapus kekerasan pada perempuan. Di Indonesia sendiri, pada 2009 berdiri Aliansi Laki-Laki Baru yang memiliki semangat serupa.

Ada laki-laki yang sudah memiliki kesadaran untuk menentang kekerasan pada perempuan. Penyebabnya bisa karena ia memiliki pengalaman buruk menyaksikan kekerasan pada perempuan atau pernah bersinggungan dengan perempuan feminis. Situasi yang demikian juga membuat laki-laki lebih percaya diri dalam menunjukkan ekspresi keberpihakannya kepada perempuan, tanpa takut diolok-olok “banci”.

Dengan adanya kesadaran dari laki-laki sendiri, pertama-tama ia telah menghindarkan potensi kekerasan dalam keluarganya. Selangkah lebih maju, ia bisa memengaruhi laki-laki, atau bahkan perempuan, lain di lingkungannya untuk mengubah cara pandang yang membenarkan kekerasan pada perempuan.

Selain karena pengalaman, laki-laki juga penentang kekerasan pada perempuan karena faktor empati, ideologi, dan pelatihan. Perasaan sedih menyaksikan perempuan mendapat perlakukan kasar bisa menggerakkan laki-laki untuk berupaya melawan kekerasan tersebut. Pun ketika ideologi yang ia pegang selaras dengan kesetaraan gender. Lebih-lebih, sebenarnya laki-laki bisa diyakinkan bahwa kesetaraan gender juga membuat beban sosial laki-laki lebih ringan—atau dengan kata lain: menjadikan dunia tempat yang lebih baik bukan hanya untuk perempuan, tapi juga laki-laki.

Usaha penyadaran melalui pelatihan umumnya dilakukan oleh lembaga atau LSM, seperti yang dilakukan Aliansi Laki-Laki Baru di empat desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Lewat pelatihan, para lelaki di tempat desa tersebut diajak untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang biasanya dilakukan perempuan, berhenti mabuk, dan terlibat dalam peran-peran domestik dan pengasuhan anak. Hasilnya, dalam wawancara, para laki-laki yang menjadi responden lebih bisa mengerti beban yang ditanggung perempuan dan tidak lagi malu mengerjakan tugas-tugas istri mereka.

Diamnya laki-laki justru memperburuk kerentanan perempuan pada kekerasan, termasuk kekerasan dari sesama perempuan—yang dalam kasus Mulan berbentuk kekerasan verbal. Setidaknya, dividen patriarki laki-laki membuat komentar dari laki-laki lebih didengarkan. Kecuali jika laki-laki memang menikmati privelesenya dalam berganti pasangan dengan tetap membiarkan pasangan barunya yang menanggung hukum sosial.

SHARE
Penulis dan Peneliti. Direktur Buku Mojok, Redaktur di Mojok.co

LEAVE A REPLY