SHARE
HIV/AIDS

Di tengah maraknya isu-isu lain yang tiap hari merongrong negara kita, mulai dari kemiskinan, ketidakmerataan pendidikan, konflik kelas sosial hingga lingkungan, apakah isu seksualitas masih tetap penting dibicarakan? Jawabnya, mungkin penting. Fakta berbicara bahwa setiap permasalahan sosial tidak dapat berdiri sendiri, juga bukan merupakan sebuah isu tunggal, melainkan selalu bersifat saling berhubunganan. Isu-isu yang muncul dalam seksualitas, seringkali merupakan buah dari isu kemiskinan, ketidakmerataan pendidikan, konflik kelas sosial, juga lingkungan. Lebih sering, ia merupakan tarik menarik diantara fenomena antar titik tersebut.

Di Negara Indonesia, isu seksualitas selalu menjadi hal yang tabu. Kita dilarang berbicara perihal seks sebab ia merupakan perkara yang begitu intim. Letak seksualitas seolah-olah selalu berada di ruang paling tertutup dan paling belakang. Di sisi lain, laki-laki dan perempuan sebagai subjek seksualitas, harus selalu menonjolkan identitas fisik dan identitas gendernya di ruang-ruang publik lewat berbagai simbol, bentuk tubuh ideal, perilaku, bahkan pilihan-pilihan privat di ruang publik seperti hobi hingga pekerjaan.

“Laki-laki yang baik adalah ia yang berpakaian macho, bersuara lantang, memiliki fisik yang lincah dan hobi berolahraga sepakbola.”

Atau,

“Perempuan yang baik adalah ia yang berpakaian anggun, bersuara lembut, memiliki badan layaknya bintang iklan sabun dan pandai berdandan.”

Demikian pula ketika kita berbicara tentang HIV/AIDS. Penyakit mematikan ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satu yang paling sering adalah isu seks bebas dan prostitusi. Sebagaimana dalam konteks gender, seksualitas adalah bentuk kekuasaan yang menyatukan, tetapi juga memisahkan laki-laki dan perempuan. Seksualitas, sumber begitu banyak kesenangan dan kenikmatan, namun juga rasa sakit, cobaan dan kesengsaraan. Seksualitas adalah wahana paling nyata untuk mengekspresikan gairah sekaligus kemunafikan. Dalam relasi seks dunia prostitusi, sebagaimana nilai lainnya, nilai-nilai sosial dunia prostitusi juga diciptakan masyarakat itu sendiri.

Perempuan sebagai objek transaksi dilabeli sebagai PSK (Penjaja Seks Komersial), sedangkan lelaki sebagai konsumennya, cenderung bebas nilai. Bahkan doktrin agama pun dilakukan melalui proses interpretasi, dengan perkataan lain, mediasi manusia. Perempuan lebih sering nampak terkena imbas dosa perzinahan. Ketika nilai ini sudah dianggap baku, maka ia dipuja-puja bagai berhala. Dunia prostitusi adalah dunia di mana perempuan pelacuran itu tidak memiliki martabat, sedangkan laki-laki yang mendatanginya tetaplah jantan bagai arjuna.

Atau dalam definisi dalam paragraph di bawah ini:

HIV is found in the body fluids of an infected person (semen and vaginal fluids, blood and breast milk). The virus is passed from one person to another through blood-to-blood and sexual contact. In addition, infected pregnant women can pass HIV to their babies during pregnancy, delivering the baby during childbirth, and through breast feeding. HIV can be transmitted in many ways, such as vaginal, oral sex, anal sex, blood transfusion, and contaminated hypodermic needles. (http://www.medicalnewstoday.com/SG)

Medium penularan HIV yang berupa jarum dan fluida, sekali lagi membuat posisi perempuan sebagai tersangka symptom HIV lebih terdesak. Laki-laki yang membawa virus HIV pun makin jarang mendapat perhatian publik. Padahal, laki-laki memiliki peran krusial dalam solusi pencegahan transmisi HIV/AIDS, yakni penggunaan kondom yang benar saat berhubungan seks.

Ke depan, isu kesetaraan gender harus mulai menaruh perhatian pada wilayah ini. Masyarakat harus dipahamkan bahwa penyebaran virus HIV/AIDS tidak hanya melalui perempuan, namun juga laki-laki. Sehingga, konseling HIV/AIDS yang selama ini lebih sering ditujukan untuk perempuan, kelak juga didesain untuk laki-laki.

Bahkan, jika perlu (dan memang perlu), laki-laki harus menjadi objek yang lebih utama ketimbang perempuan dalan upaya konseling HIV/AIDS.

SHARE
Blogger dan penulis lepas, redaktur Mojok.co

LEAVE A REPLY