SHARE
Kekerasan pada perempuan

Saya anak laki-laki pertama dengan dua adik perempuan. Peran sebagai anak laki-laki pertama itu tentu membawa saya pada sebuah situasi yang sangat akrab dengan isu-isu yang kini sedang banyak didiskusikan, yakni soal kesetaraan gender, tepatnya. Tentang bagaimana saya menempatkan nilai maskulin-feminin pada tempat yang semestinya.

Sebagai laki-laki, saya tentu saja mendapat asuhan yang “seharusnya” didapat oleh laki-laki. Pola asuh itu, kemudian melahirkan berbagai konsekuensi umum yang wajib disandang oleh laki-laki kebanyakan. Misalnya, bagaimana laki-laki harus lebih kuat untuk mengangkat galon ke dispenser, bagaimana laki-laki harus lebih kuat untuk memanjat dinding rumah lalu memperbaiki plafon yang berlubang, bagaimana laki-laki harus membunuh tikus atau serangga lain yang dianggap berbahaya. Peran-peran semacam itu, sebetulnya tidak salah. Tetapi, memang ada beberapa proporsi lanjutan yang kurang pas.

Mari kita simak ulang peran-peran di atas yang lebih banyak mengasosiasikan laki-laki dengan kekuatan fisik semata. Laki-laki, dianggap punya energi lebih untuk mengangkat, atau memukul sesuatu. Lebih-lebih, ia dianggap layak untuk mengangkat senjata tajam, keras dan berbahaya, dibandingkan perempuan. Apakah itu artinya perempuan tidak mampu mengerjakan hal serupa? Saya pikir tidak demikian. Bisa jadi, itu disebabkan perempuan tidak terlatih saja. Di lereng-lereng gunung Lawu atau Merbabu, misalnya, tak jarang saya menemui para perempuan tua masih begitu tangguh naik-turun bukit dengan memanggul kayu bakar. Sebagai lelaki yang masih muda begini, boleh jadi saya tidak setangguh beliau.

Selain itu, ajaran yang lebih mengutamakan fisik tersebut seringkali abai terhadap sensitifitas perasaan laki-laki. Laki-laki selalu dituntut ke lapangan, menyelesaikan pekerjaan dengan segera, sigap, tuntas. Tuntutan yang barangkali berbeda dengan perempuan ketika memasak di dapur, sebuah pekerjaan yang meminta sikap kehati-hatian dan ketelitian indera. Sikap abai pada dimensi “rasa” laki-laki inilah yang kemudian melahirkan penghakiman bahwa laki-laki merupakan pionir bagi segala rupa kekerasan di muka bumi. Dan sayangnya, hal tersebut memang fakta.

Asosiasi laki-laki dengan sifat-sifat kekuatan fisik dan kekerasan yang seringkali melahirkan bentuk opresi atau represi laki-laki kepada perempuan sebagai pasangannya. Tentu ini hal yang sangat berbahaya, terlebih lagi ketika hal itu dianggap sebagai hal yang wajar. Padahal, ketika perempuan melakukan tindakan yang serupa, meskipun ia sedang membela diri, tindakannya kerap terlabeli sebagai tindakan yang tidak pantas, “ora ilok” kata orang Jawa.

Ini menjadi bukti yang cukup nyata betapa masyarakat masih dan akan selalu menuntut perempuan untuk berperan sebagai sosok yang ngalah dan pasrah. Padahal, semestinya tidak begitu.

Tentu saya tidak sedang menyarankan agar kekerasan terjadi dua arah. Poinnya di sini adalah, laki-laki harus menyadari bahwa kekuatan fisik yang menjadi sumber munculnya kekuatan legitimasi tidak lantas memunculkan kewenangan untuk bersikap sewenang-wenang kepada perempuan.

Dengan berkurangnya rasa percaya diri yang berlebih pada diri lelaki akan kekuatan fisiknya itu, para laki-laki mungkin akan belajar untuk mengendalikan diri sendiri, membelokkan kekuatan fisiknya untuk hal-hal lain yang anti kekerasan, dan lebih penting lagi, menumbuhkan rasa sensitifitasnya.

VIAAgus Mulyadi
SHARE
Blogger dan penulis lepas, redaktur Mojok.co

LEAVE A REPLY